Tuesday, 10 March 2009

GREENSURVEYOR Sumatra-Java-Bali '07 (Jakarta)

Jakarta



Ohh Jakarta, semakin mendekati, semakin asap polusi tak terkendali. Pesona Batavia dahulu kala, haruskah polusi merajalela. Haruskah banjir kerap melanda. Haruskah sampah semakin menggila. Membuat sesak Jembatan Lima..


Memasuki tol Cikampek (Rp.48rb) dan tol dalam kota Jakarta (Rp.6rb) pada dini hari terasa lengang. Setelah hilir mudik mencari penginapan dari mess milik Pemprovsu di Jalan Sambu dekat Taman Sari yang seperti tidak ada penghuni, sampai ke beberapa hotel di kawasan Cikini hingga akhirnya kami terdampar di Masjid Istiqlal yg tegak berdiri harmonis berdampingan dengan Gereja Katedral kebanggaan umat Kristiani di Indonesia sembari menunggu pagi menjelang.


Hari ke-Dua Belas

Si Pitung legenda Betawi, kemacetan makin tak terkendali, Sesak ibukota membuat lupa untuk berhenti. Pada tahun 1992 Indonesia telah mencoba menangani pengendalian pencemaran udara melalui program Langit Biru yang melahirkan undang-undang No. 23 tahun 1997 tentang pengelolaan Lingkungan Hidup dan Peraturan Pemerintah No 41/1999 tentang Pengendalian Pencemaran Udara.


Kini, tahun 2008, kenyataan yang terjadi, asap kendaraan makin menjadi, hingga pepohonan lupa tumbuh kembali, kering diberangus si asap putih membuat Tim lupa kemana pergi, sesat kehilangan arah kemudi.


Namun, bagi yang belum pernah ke Ibukota, ada satu kelebihan menarik, jika tidak memiliki pemandu, dengan mudah kita akan mendapatkan informasi dan transportasi. Banyak pilihan menuju tempat tujuan mulai dari Bus Way, Kereta Api sampai taksi. Bila membawa keluarga, Taman Impian Jaya ancol sampai saat ini menjadi tempat yang menyenangkan.


Kejadian yg tak terduga, ketika perutku terasa mulas, aku mencoba mencari toilet. ternyata penuh oleh anak-anak sekolah baru aku tahu berasal dari Jawa Timur yg kebetulan juga sedang mengadakan tour di Jakarta. Jadi deh gua kebingungan mencari toilet. di ke-empat sudut Istiqlal tak ada juga tempat untuk mengeluarkan ampas perut ini. Akhirnya…




Setelah shalat shubuh, kudapati teman seperjalanan masih belum beranjak dari tidurnya, kubangunkan untuk segera menunaikan shalat. Setelah melihat sekeliling Istiqlal kulihat ada penjaja makanan dan kuhampiri untuk sarapan pagi (Rp 10rb).

Setelahnya kami bergerak untuk mencari hotel, dan akhirnya kami temukan hotel di Jl Juanda (Rp 410rb) yang tak begitu jauh dari Istiqlal untuk kemudian segera beristirahat.

Pelayan hotel menawarkan jasa untuk mencuci mobil (Rp 25rb) yang keadaannya seperti kubangan kerbau, maklum saja, sudah 2 minggu mobil belum pernah di cuci.


Pukul 12.00 kami bangun dan mencari makan siang yg kebetulan ada didepan hotel (Rp 28rb). Hari ini kami habiskan untuk merebahkan diri melepaskan lelah meluruskan punggung, melonggarkan pinggang dan berbagai kalimat yang artinya sama juga dengan melepas lelah.

Hari ini kami menunggu kedatangan rekan kami yang tinggal di Jakarta. Setibanya beliau, kami langsung bergerak, dan kubawa rekanku untuk menjadi pemandu dengan tujuan pertama ke Ancol (Rp 50rb). Setelah puas berkeliling di Ancol, kami menuju Mc Donald di Jl Thamrin (Rp 78rb).


Hari ke-Tiga Belas


Pagi ini kami mulai dengan sarapan di Hotel (Rp.29rb) dan bersiap-siap untuk kembali pulang ke Medan. Sewaktu akan berangkat, terlihat kalau ban mobil sudah kekurangan angin alias bocor sehingga harus di tempel yang kebetulan juga tidak jauh dari Hotel, yang masih di daerah Pecenongan (Rp.25rb). Tidak lama kemudian kami bergerak dan memasuki pintu tol (Rp 20rb) dan kembali mengisi bensin (Rp.170rb) di Rest Area tol Merak-Bakauheni.


Akibat tak begitu familiar dengan jalanan Jabotabek, mendekati maghrib kami baru tiba di Banten dan baru akan makan siang yang baru terlaksana di sore hari menjelang maghrib (Rp.37rb) selanjutnya bergegas menuju ferry penyeberangan Merak-Bakauheni (Rp.167rb). Menjelang pergantian malam kami pun tiba di Pelabuhan Merak diiringi isu akan meledaknya anak gunung Krakatau.


Jarak 99 km dari kota Jakarta menuju Pelabuhan Merak tim tempuh lebih dari 6 jam akibat kemacetan yang luar biasa dan ini terjadi di jalur tol dalam kota Jakarta.


Perairan sedikit beriak, ancaman anak Gunung Krakatau di selat Sunda, cukup membuat pelintas was-was. Bibir membisu menghela nafas, hantar buih ke laut lepas.




Kaki langit tertutup rapat, terpejam hitam kelamnya malam.
Saat berlabuh di Pulau seberang. Doa syukur kupanjatkan, pada Dia, Yang Menjadikan.

No comments:

Post a Comment