Tuesday, 10 March 2009

GREENSURVEYOR Sumatra-Java-Bali '07 (Sumut)

Medan, Sumatera Utara

Abstrak

Didasari kesadaran untuk lebih mendekatkan diri kepada sang pencipta, kita dituntut untuk lebih mendekatkan diri kepada alam dalam berbagai bentuk dan cara juga mendekatkan diri kepada sesama manusia dalam bentuk menjalin hubungan silaturahmi sehingga lebih merekatkan diri sambil berukhuwah sembari melebarkan dakwah.


Untuk mencapai misi yang penuh hikmah diatas, harapan semoga tercapai dengan melakukan perjalanan menyisir pulau Sumatra, Jawa dan Bali yang menempuh jarak tak kurang dari 7600 km dengan melalui beragam suku dan adat istiadat penduduk setempat serta menghabiskan masa 17 hari perjalanan.


Program dan schedule yang teringkas apik menjadi panduan kedisiplinan, sehingga terwujud sudah angan umtuk melepas kerinduan dan temu kangen dengan segenap sanak famili dan handai taulan yang tak mampu menghalau binar di mata yang tampak nyata setiap menyambut kunjungan dadakan yang mengusung semangat Natural dan Religius.


Situasi dan kondisi silih berganti bermakna besar sebagai kajian untuk introspeksi diri, bagaimana menyikapi hidup, bagaimana menyikapi kesenjangan hidup, bagaimana memahami diri untuk menyikapi perbedaan kultur budaya hingga sampai bagaimana menyikapi timpangnya ekosistem sebagai kajian untuk menyelamatkan ekosistem kehidupan secara keseluruhan.


Akar Rencana dan Destination pada Hari Pertama

Raga menggeliat, selimut kusibak manakala azan subuh menggema di Sabtu pagi tanggal…di Bulan September 2007, yang membuatku sontak terjaga dari alam mimpi yang telah membawa sukmaku entah kemana. Kuguyur tubuh walau dingin terasa. Air wudhu hangatkan jiwa dan batinku. Basuh kening dan wajah mengharap terhapus dosa. Sujud diatas sajadah pada Dia Maha Pencipta. Perjalanan panjang yang kunanti, kini telah diambang pintu. Sibak lamunan, tepis keraguan, hadapi tantangan untuk rampungkan bekal diperjalanan nanti.




Tepat pukul 11.00 Wib, mesin berderu menambah riuhnya hiruk pikuk lalu lintas kota Medan. Papan speedometer Toyota Avanza yang telah melalui seleksi mekanik di bengkel resmi, menunjukkan keadaan tangki bensin yang telah terisi full (Rp.175rb) dan angka penunjuk di kilometer 047065 menandakan titik awal dimulainya perjalanan, membawa Ahmad Hamonangan Ritonga alias Ucok, Hasyril Syah yang akrab dipanggil Atin dan penulis sebagai Tim Leader, siap melintasi hamparan gunung dan bukit, sungai dan laut, taklukkan hujan dan kabut, nikmati alam dan rimba yang hadirkan beraneka ragam gugusan pesona.


Sungguh tak dinyana, schedule tour yang padat meyusuri object wisata di Sumatra Utara dan Nanggroe Aceh Darussalam menjadi landasan Tim untuk mengambil langkah besar, langkah terencana untuk lebih mengenal alam di seantero nusantara. Berbekal pengalaman dan Bismillah, langkah menjadi ringan, fikiran menjadi tenang sehingga dapat membagi dan menyebarluaskan rincian pengalaman Tim Ekspedisi GREENSURVEYOR WAKIL selama dalam perjalanan.


Sumatra Via Lintas Timur

Bhinneka Tunggal Ika. Beragam suku, adat dan bahasa. Adakah rasa di jiwa untuk memperkaya, aneka rupa budaya, istiadat Nusantara. Sempat terbersit pertanyaan ini saat penjaja jalanan menawarkan Kerupuk Jangek (Rp.5rb) yang dipercaya dapat mengurangi gejala penyakit maag, di persimpangan Asrama Haji, Bandara Polonia, Medan.


Pertanyaan tadi tak sempat terjawab saat setengah jam selepas kemacetan akibat pembangunan Fly Over yang menambah semrawut lalu-lintas di simpang Amplas tim memasuki Kota Perbaungan, untuk tunaikan shalat dan membeli nasi bungkus (Rp.49rb) di Restorant Simpang Tiga , tepatnya di pertigaan menuju objek wisata Pantai Cermin.


Sebagai musafir, Tim meringankan waktu dengan menjamak shalat untuk mengantisipasi keadaan jalanan yang tak bisa ditebak. Nasi bungkus yang tak hangat lagi akibat kemacetan di Pusat Kota Serdang Bedagai Tim lahap ketika berangjasana ke pemondokan keluarga di Tebing Tinggi untuk meredam lambung yang telah mengeluarkan irama sumbangnya.


Sejurus kemudian, Tim telah berada kembali dibalik kemudi, bergegas meninggalkan Kota Lemang, melaju dengan kecepatan rata-rata 80 km/jam melewati perkebunan sawit dan karet menuju Kota Kerang, untuk menghadiri resepsi pertunangan salah seorang rekan sejawat.


Pertigaan Inalum atau Industri Asahan Aluminium kelihatan lengang. Simpan sejuta kebobrokan persoalan lingkungan. Mulai dari pencemaran air, udara dan hutan mangrove yang telah disulap menjadi kebun kelapa sawit.


Melewati Simpang kawat, pintu gerbang menuju Kota Tg Balai yang dulu terkesan gawat dan rawan penyelundupan, suasana kini berubah sangat, terlihat sepi. Kawasan yang dahulu banyak meninggalkan cerita, kini redup tidak menunjukkan geliat, terutama sejak Sutanto resmi menjabat Kapolri, menutup rapat perjudian import pat gulipat.


Padahal, bila ditangani secara sungguh-sungguh, bukan tidak mungkin Tg Balai mampu menjadi Hongkong atau Macau kedua yang mampu mengembangkan pelabuhan bertaraf internasional, terutama bila pemerintah punya kemampuan mengoptimalkan SDM, SDA dan benar-benar berperan aktif dalam menelurkan kebijakan dan memihak pada rakyat dalam menerbitkan peraturan perundang-undangan dengan menerapkannya secara transparan dan akuntable.


Namun kondisi hutan bakau dikawasan pesisir disini jauh lebih parah dari 800 hektar hutan bakau di Desa Lubuk Bansi Kecamatan Seuruway Kabupaten Aceh Timur yang telah luluh lantak dialihfungsikan menjadi lahan kelapa sawit.


Pukul 18.00 menjelang maghrib Tim tiba di penginapan tempat kerabat Atin berkumpul menyempatkan diri bersilaturahmi sejenak, untuk selanjutnya menuju ke rumah saudari Tiwi calon mempelai saudara Atin. Berhubung hari telah beranjak malam, untuk mempersingkat waktu, setelah tunaikan shalat dan makan malam, doa restu kami pohonkan pada sanak keluarga atas kerelaannya melepas keberangkatan, terutama pada calon mempelai wanita, berhubung keikutsertaan calon mempelai pria tunaikan visi dan misinya untuk melakukan perjalanan kembali.


Jam tunjukkan pukul 20.00 Wib, ketika masuki SPBU (Rp.160rb) beberapa menit di luar kota Tg. Balai. Dari sini Tim bergerak sedikit ekstra hati-hati berhubung kakak dari saudara Atin, Hasnita yang sedang sakit parah ikut menumpang ke Pekan Baru.


Setelah shalat Isya sambil menghirup udara segar sejenak di Masjid Rantau Prapat, perjalanan Tim lanjutkan kembali menempuh jalanan jelek berlubang melalui iring-iringan mobil tangki dan truk-truk intercooler yang membawa kayu gelondongan menuju Pabrik Kertas RAPP. Sejenak berhenti mengambil beberapa momen penting terkait Illegal Logging seperti tumpukan kayu gelondongan yg tersusun rapi di depan kantor Polisi sepanjang jalan.

3 comments:

  1. Salam kenal ya bang n untuk team green surveyor 4 all !

    ReplyDelete
  2. Haik...haik...haikkkkkkk...........tq...

    ReplyDelete
  3. Terimakasih..atas balasan langsung comment nya.Couse,unusually..u can on line in this area time.Hehehe..(It's lately time, i already tired) So..see u next time.(Hmm by the way..nice to see ur polcadot's wall paper). Key..tata pay pay

    ReplyDelete