Tuesday, 10 March 2009

GREENSURVEYOR Sumatra-Java-Bali '07 (Jateng-Jabar)

Jogja-JABAR




Ngawi, Sragen, Surakarta. Indah Bengawan Solo, dan Keraton Surakarta jangan sampai ini terlewatkan, tambatkan kaki walau sekejap.


Hari ke-Sebelas



Ingin lihat Jogja dari dekat pasca bencana teramat dahsyat luluh lantakkan separuh jagat, bernostalgia walau sesaat mengenang masa yang telah lewat. Keraton Susuhunan Jogjakarta, Borobudur yang kata dunia sudah tidak ajaib lagi.


Setelah mandi dan sarapan (Rp 20rb) kami juga mengecas handphone yg hampir low bat, kami mendapat informasi dari bapak yang memakai seragam dinas ABRI kalau Borobudur tidak begitu jauh lagi. Sesampai di borobudur aku yg sudah sering kemari hanya membelikan tiket masuk (Rp 20rb) untuk 2 orang. Kubiarkan Ucok dan Hasril berjalan melihat-lihat Borobudur sepuasnya. sementara aku duduk memesan soft drink (R.p 5rb) sambil melihat-lihat sekeliling yg banyak menjual souvenir. Ketika mereka kembali kulihat gambaran kelelahan dimata mereka namun gembira karena telah sampai ke situs terbesar didunia. Setelah membeli souvenir kami lanjutkan kembali perjalanan,

Satu hal menarik di Kawasan Wisata Borobudur, souvenir dan batiknya cenderung lebih murah dari pasaran di Kota Jogja..


Prambanan, Sewu, Kalasan. Ratusan situs dan petilasan, sarat sejarah budaya Indonesia. Always in my mind…

Hamparan persawahan Purworejo, Kebumen dan Banyumas. Hijau asri menyegarkan panorama Banjar, Ciamis dan Tasik. Ciamik lekukan, tebing lereng Gunung Galunggung. Udara sejuk hawa di Garut, rindang pepohonan rimbun dedaunan, sungguh ingin ngaso sejenak.




Kali ini menuju Kebumen dan dijadwalkan makan siang di Kebumen. Nikmat banget makan siang kali ini, sambalnya ok punya. (Rp 40 rb). Di Banyumas kami lihat ban mobil yg kempes dan minta ditambah anginnya (Rp 5rb). Selanjutnya bensin diisi di Tasikmalaya (Rp 155rb) dan makan malam yg tidak enak dan mahal di tol Purbaleunyi (Rp 48rb).


Bandung


Kota Bandung atau kota Kembang, suguhkan berbagai gaya dan rupa. Belanja sambil bernostalgia, tawarkan panorama kota tua. Sebelum kaki melangkah pulang, sempatkan diri mampir sejenak, hawa dingin udara Lembang, hembusan angin di puncak kawah, Tangkuban Perahu Bumi Parahyangan.…


Tak bisa disangkal, mengapa selama ini daerah yang dilanda konflik iri melihat perkembangan pesat di pulau Jawa. Tak satupun daerah yang tidak tersentuh pembangunan, jalan-jalan propinsi, kabupaten, kecamatan, desa sampai dusun-dusun semua teraspal mulus, jembatan raksasa yang tidak ada sebuah pun di pulau Sumatra, waduk-waduk berkilometer panjangnya, tidak salah mendapat julukan gemah ripah loh jinawi

No comments:

Post a Comment