Monday, 9 March 2009

GREENSURVEYOR Sumatra-Java-Bali '07 (Riau-Medan)

Riau menuju Sumatera Utara


Hari ke 15

Di Muara Bungo bensin di isi (160rb) dan menuju Pekan Baru setelah sebelumnya sempat singgah untuk minum air kelapa muda (Rp 21rb) di pinggir jalan menuju Pekan Baru. Setiba di Pekan Baru, Tim tidak langsung menemui keluarga Hasril, namun mengisi perut dulu yg sudah ku...ku...ruyuk akibat terlalu lama menunggu di isi (Rp 21rb).


Selesai makan, Hasril bertanya-tanya sedikit tentang rute keluar kota Pekan Baru menuju ke daerah Tapanuli Selatan (Tapsel) pada warga yg sedang nongkrong menikmati secangkir kopi. Setelah mendapat panduan, tim bergegas kerumah keluarga Hasril. Tidak lama memang, karena kami harus segera berangkat kembali. Jauh setelah meninggalkan Pekan Baru, Tim mengisi bensin kembali di Pangaraian (117rb) yang merupakan perbatasan Riau dan Tapanuli.


Hari ke-16

Lewat tengah malam, kami dapati sebuah masjid di kota kecil yang aku lupa namanya, setelah shalat dan makan Indomie di warung (Rp ?) perjalanan dilanjutkan dan sekitar pukul 3 dini hari kami temukan kalau ban mobil bocor di tengah gelap gulita kesunyian malam. Ban kami ganti, ternyata ban serep juga tak ada angin, akhirnya kami masukkan lagi ban bocor pertama dan kami paksakan untuk melanjutkan perjalanan mencari tempel ban terdekat.


Tidak lama berselang kami sampai disebuah kota kecil, Sibuhuan, dan memarkirkan mobil di samping bengkel tempel ban yang belum buka karena masih pagi sekali. Sekitar pukul 7 sang pemilik bengkel datang dan segera mengganti ban tubeless mobil dengan ban dalam, karena ketiadaan peralatan temple ban tubeless.


Setelah membayar (Rp 40rb) kami lanjutkan ke kampung Ucok yang memang tidak begitu jauh, paling sekitar setengah jamperjalanan dari bengkel temple ban yang tadi. Disini kami bersilaturahmi dibeberapa rumah famili Ucok. Di rumah famili Ucok yg juga bernama Ucok kami mandi –mandi di sungai dibelakang rumah yang ber air jernih dan segar.


Setelah makan siang kami pun bergegas menuju kota berikutnya Kota Balige yang kami dapati menjelang sore. Di kota ini kami beli nasi bungkus (Rp 35rb) dan menuju kota parapat. Danau Toba di pelupuk mata, serasa ada yang hilang membuat hampa. Selanjutnya kami menginap di Toba Hotel (Rp 225rb). Untuk beristirahat.


Hari ke-Tujuh Belas



Paginya kami sarapan di hotel yg berarti sudah satu paket dengan harga kamar dan berleha-leha menyaksikan air Danau Toba yg tak lagi bening akibat maraknya penangkaran ikan yang membuat air danau sangat tercemar.


Siangnya setelah makan siang di depan Hotel Natour Parapat (Rp 32 rb), bensin di isi (Rp 162rb) dan bersiap menuju Medan tempat keluarga kami berada.


Di Simpang Bengkel, Kab. Serdang Bedagai berhenti sesaat untuk membeli buah tangan (Rp 80rb). Sampai di Medan, bukannya langsung pulang, malah menemui teman yg sedang ngumpul bareng di warung kopi depan Perisai Plaza (Rp 85rb). Syukur malam itu ada razia yang membuat kami kehilangan semangat untuk berlama-lama di lokasi itu dan bergegas pulang ke rumah untuk menemui keluarga yg telah lama ditinggalkan.


Akhirnya, perjalanan yang menempuh jarak 7600 km dan menghabiskan bensin kurang lebih Rp 2.508rb sewaktu harga minyak 5500/liter kami selesaikan dengan harapan dapat mengulanginya kembali dengan rute yang lebih jauh.


Kesimpulan

Luarrrrrr Biasa…Perjalanan menyusuri separuh nusantara di penghujung tahun yang jauh dari publisitas pun acara seremonial berakhir dengan beberapa catatan, anjing menggonggong kafilah berlalu, benar, sangat bertolak belakang dengan sesumbar hambar pejabat dan aparat. Berbondong trailer kayu gelondongan, ribuan ton pohon kayu bertumbangan. Dari perbatasan Sumut dan Riau hingga ke Jambi, Bengkulu sampai Sumsel yang bergerak bagai iring-iringan semut yang kerap menghalangi laju kenderaan Tim.




Tidak ketingggalan Danau Toba nan indah permai yang dihiasi dengan kerambah-kerambah apung yang berserak menutup menjoroki danau kebanggaan Sumut.

Sungguh Ironis, lain lubuk lain ikannya, lain pulau lain pula kebijakannya. Riuh suara di gedung dewan, rendah suara di gedung pemerintahan. Gundul hutan di Pulau Jawa, angggota dewan tak perlu malu, gundul hutan di Pulau Sumatera, wakil pemerintahan ribut melulu, uuuuu….


Akhirnya mari kita memberi contoh dan karya nyata untuk menyelamatkan dan menghindari diri, keluarga, masyarakat dan generasi kita dari bahaya narkoba. Mari kita bergandeng tangan menyelamatkan lingkungan dari perubahan iklim dunia dengan mendukung pencanangan gerakan sejuta pohon dan melakukan kegiatan yang berhubungan dengan alam meningkatkan jalinan sesama umat dengan kunjungan dan bantuan apabila turun ke daerah serta terjun langsung berbaur dengan masyarkat untuk memberikan wacana dan pencerahan kepada masyarakat menyangkut bahaya narkoba yang kini marak mengancam generasi muda serta dampak perubahan iklim dunia yang mengancam kehidupan manusia secara global.


Perjalanan tim yang tergabung dalam Divisi GreenSurveyor dibawah naungan LSM WAKIL Internasional yaitu organisasi nirlaba yang concern terhadap perubahan iklim dunia, berakhir membawa semangat ke Bhineka Tunggal Ika an untuk meneruskan semangat cita-cita luhur pejuang kemerdekaan Indonesia.

No comments:

Post a Comment