Tuesday, 10 March 2009

GREENSURVEYOR Sumatra-Java-Bali '07 (Bali)

Bali


Ferry penyeberangan Banyuwangi-Gilimanuk (Rp.80rb) mengantar Tim dengan hati berdebar, menuju Pulau Dewata yang sudah didepan mata. Wajah-wajah ramah di geladak atas feri seolah menyambut kedatangan Tim. Memasuki Bali aku turun sesaat untuk melihat laut lepas dan pemandangan disekitar pelabuhan seraya menjumput sedikit tanah Bali sekedar merasakan hangatnya di tangan, tak lupa juga mengeluarkan yang sudah tersimpan lama di kantung kemih, ya, pipis dulu..



Seperti tidak ada hari esok, padahal hari menjelang petang. Tim sempatkan membekukan beberapa momen di Hutan Balai konservasi dan kegiatan pemujaan di tepi pantai kawasan konservasi tempat dilindunginya pepohonan dan binatang langka yang seringkali menjadi objek buruan.




Dari informasi yang didapat dari situs Departemen kehutanan, ular sanca atau mamalia seperti biawak & kura-kura boleh diekspor, selain untuk budidaya & penelitian juga diperbolehkan untuk souvenir dalam jumlah tertentu. Keputusan Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan & Konservasi Alam nomor SK 06/IV-KKH/2008 yang di tanda tangani pada 18 Januari 2008 ini, menyisakan tanya. Persoalannya, terkadang teori dengan kenyataan dilapangan bisa jauh berbeda. Para pemburu binatang, berusaha dengan segala cara, mencari celah untuk melegalkan aksinya. Mungkin saja keputusan ini akan menjadi wacana pembenaran ekspor illegalnya.



Setelah mengisi bensin di Jembrana (165rb), Tim makan malam (Rp 35rb) di Gerobogan, sambil bertanya-tanya dimana tepatnya Jalan Poppys di wilayah Kuta. Tanpa menemui kesulitan berarti akhirnya kami temukan penginapan bersih di Hotel Dua Dara di Poppyes yg berharga 80 rb/malam. Malam itu, kami tidak kemana-mana kecuali Hasril yg sudah tidak sabar hendak melangkahkan kaki menyusuri jalanan di Bali. Malam itu aku dan Ucok tidur nyenyak. Grhek… grhekg..grkhk…

No comments:

Post a Comment