Tuesday, 10 March 2009

GREENSURVEYOR Sumatra-Java-Bali '07 (Bali)

Bali
Hari ke-Sembilan

Jika di Medan, orang ber Tattoo identik dengan preman, ternyata sama sekali jauh dari sangar pemuja Tattoo di Bali. Disini, seni dan budaya benar-benar dijunjung tinggi. Pusat perbelanjaan, Hotel dan Kafe berada dalam jarak yang berdekatan, dibangun tidak menutup jarak pandang dengan garis pantai yang rapat dengan pepohonan, mudah ditempuh dengan berjalan kaki di pedestrian way yang nyaman, sungguh sangat seimbang dengan lingkungannya. Dan bila kuat untuk tetap terjaga, banyak aktifitas yang dapat dilakukan. Golf, Snorkling, Diving, Shopping, Dancing, Clubbing dll.




Kami lihat para bule berkemas mengepak papan selancarnya, rupanya mereka hendak pulang ke kampung halamannya. Setelah berbual-bual sejenak, kami turun makan (Rp 40rb) ke Pantai Kuta ditempat kami makan kemarin pagi, namu kali ini plus Hasril.



Disini kami ketemu dengan anak Medan tepatnya di kawasan Perumnas Simalimgkar bernama Roy bersama abangnya yang baru menetap 2 tahun di Bali. Mereka anak-anak pantai yang hidupnya dari menyewakan papan selancar dan menjual minuman ringan sambil sesekali menemani cewe bule untuk jadi gaet atau teman kencan.




Disini aku menemukan bentuk kehidupan lain yang merupakan realita kehidupan yang merupakan mata rantai yang menunjang tetap berkibarnya Pariwisata di Bali. Kami memesan minuman dan berbagi cerita tentang kehidupan anak-anak pantai, namun, walau rasanya masih ingin berlama-lama menikmati suasana pantai di Kuta Beach, waktu tak bisa kami hindari, kami harus pulang. Walau sesaat, suasana sudah sangat terasa akrab dan terjalin dengan baik, oleh karenanya mereka sangat berterimakasih ketika Teh Botol yang kami minum 3 buah, kubayar dengan uang 50rb, tanpa meminta uang kembaliannya. Sebelumnya aku membeli busur dan panah (Rp 150rb) khas Kalimantan untuk oleh-oleh dibawa pulang.



Di Pedestrian way menuju hotel banyak toko yang menjual oleh-oleh. Beberapa kali kami singgah namun harga terasa mahal jadi kami hanya membeli seadanya saja.



Setelah merekam gambar sejenak di Monumen Tragedy bom bali yg menewaskan 202 orang yang kebanyakan warga Australia, kami singgah sebentar di warung bapak yang aku lupa namanya didepan Bounty Café untuk membeli makanan (Rp 25rb) sebagai persiapan kami dijalan menuju pulang.



Setelah membayar kamar berikut charge karena penambahan waktu (Rp 120rb) kami berangkat pulang, namun sempat juga berkeliling sekali mengitari pantai kuta lalu tancap gas menuju Gilimanuk.



Di perjalanan pulang aku singgahi sebuah toko buku untuk membeli peta pulau Jawa dan Bali (Rp 25rb) sebagai panduan karena kami tidak akan melewati jalur Pantura lagi, namun mengambil jalur yang berbeda yaitu melalui pantai selatan yang banyak melewati kawasan pegunungan dan perbukitan.


Always in my mind, Good Bye Bali, I’ll be back someday.

No comments:

Post a Comment