Wednesday, 13 June 2018

IMBI Sumut adakan Baksos, Bukber & Pembagian Bingkisan di Pospamtas 'Aidil Fitri 1439H

*BAKSOS, BUKBER & PEMBAGIAN POSPAMTAS RAMADHAN IMBI 1439H


*Bersama rekan-rekan IMBI SUMUT mengadakan acara bakti sosial IMBI SUMUT dengan menggandeng masyarakat, anak2 Panti Asuhan &  Alumni SMA 6 Angkatan '83.


Kegiatan yg di laksanakan pada Hari Sabtu, 9 Juni 2018 dari Jam 17.00 s/d Selesai bertempat di Mesjid Jami' Al Ikhlas Jl. Batu, Kelurahan Medan Area


*Kegiatan awal dimulai dengan Buka bersama dan menyantuni anak yatim, dan dilanjutkan dengan Pembagian bingkisan lebaran ke Pospamtas POLRI.


*Bersama2 Riding dengan membawa motor besar dimulai dari Kediaman Ketua IMBI Sumut, Bgda Bayu Fadhlan menuju Mesjid Jami' Al-Ikhlas di jalan Batu.


*Berseragam IMBI Sumut, usai kegiatan Bakti Sosial dan Buka Bersama, kemudian Riding menuju ke beberapa titik Pospamtas Lebaran Poldasu di bawah Komando langsung Ketua BAYU FADHLAN, Ketua IMBI SUMUT


Sebelumnya, kegiatan IMBI Sumut berlangsung sukses dengan dukungan teman2 di Artventour Medan yg bekerja dibelakang layar, yg membantu sepenuh tenaga menyiapkan beberapa bingkisan untuk dibagikan kebeberapa Titik Pospamtas di Kota Medan.


*Atas kesuksesan pelaksanaan & partisipasi kegiataan bakti sosial diatas, secara pribadi Ketua IMBI Sumut, Bayu Fadhlan, mengucapkan terima kasih yg sebesar-besarnya atas dukungan dari semua pihak yg telah membantu dan mendukung terlaksananya kegiatan dimaksud.


Berbuka Puasa Bersama satu hari menjelang Hari Raya 'Aidil Fitri 1 Syawal 1439 H...


Buka Bersama setelah Kerja Bersama sama di Tempat dan bagian tugas masing- masing.


Khusus anak-anak, terus belajar & tetap semangat tuntaskan puasa di bulan Ramadhan untuk meraih kemenangkan di Hari Raya 'Aidil Fitri 1 Syawal 1439 H...



Friday, 8 June 2018

Dari Cerminan lalu lintas sebuah negara, kita bisa tahu bagaimana keadaan keseluruhan negeri itu!!" Kalau lalu lintasnya tertib, bisa dipastikan baik segala hal di negeri itu..sebaliknya, kalau amburadul, itu jugalah isi negeri itu."

A. Pengertian Touring.
Touring adalah kegiatan klub melakukan perjalanan dengan
sepeda motor ke tempat tujuan tertentu untuk menyalurkan kegemaran berkendara
sepeda motor para anggotanya dan menikmati indahnya kebersamaan dan persatuan para anggota. Touring adalah istilah dari yang di pakai untuk pergi sendiri atau rombongan, ke suatu tujuan yang sama.
Touring memiliki resiko yang tinggi & rawan dengan kecelakaan. Karenanya harus extra hati-hati. Dan selain itu ada aturan-aturan, cara-cara dan etika yang di sepakati bersama oleh peserta touring nya.
Touring akan aman, nyaman, dan menyenangkan bila kawan-kawan semua mematuhi aturan main nya yang telah di buat oleh polisi ataupun dari si pelaksana touring tersebut. Di sisi lainnya ada pemimpin yg bertanggung jawab pada setiap kelompok touring tersebut. Ada petugas pengatur irama jalannya touring, & ada pula kordinator jalannya touring tersebut dan mematuhi aturan lalu lintas yang berlaku. Memimpin perjalanan pada saat touring melalui para petugas touring yg bertanggung jawab atas keselamatan dan keamanan peserta dan keamanan peserta touring hingga sampai pada tujuan dan buat si ketua touring harus bisa menangani persoalan ke-3 atau pada saat di jalan.
B. Petugas - Petugas Touring.
Ada sebagian orang yang akan di pilih atau di ambil alih buat jadi petugas pada saat touring akan di mulai. Tetapi itu semua harus sesuai dengan kemampuan calon yang akan di pilih nya dan harus bisa memahami dan bertanggu jawab atas kepercayaan nya. Misalnya :
 Pemimpin barisan ( Voorijder )
 Petugas Keselamatan ( Safety Officer )
 Petugas Pengatur Barisan ( Sweaper )
 Petugas Teknik ( Technical Officer )
 Petugas Kesehatan ( Health Officel )
Semua petugas memiliki posisi dan tugas nya masing-masing serta wewenangnya masing-masing.

C. Etika Pada Saat Touring.
Pada artian etika ini, adalah dimana kita harus menjaga tata tertib lalu lintas, entah itu pada motor & bisa juga pada saat berkendara di jalanan. Kita harus bisa memahami atas apa yang ada di jalan yang kita lalui tersebut.
Contoh- contoh yang bisa saya sampaikan :
 Datanglah tepat waktu dan bahan bakarpun harus sudah terisi dengan penuh/full
 Mengetahui tujuan pelaksana touring
 Mematuhi peraturan lalu lintas
 Tidak membawa minuman keras , obat-obatan terlarang dan bahan adiktif lainnya
 Tidak saling mendahului sesama peserta
 Tidak ugal-ugalan pada saat berkendara
 Dilarang menggunakan sirine
 Menggunakan klakson apabila memang dibutuhkan
 Tidak mudah emosi dengan apa yang ada pada saat di perjalanan
 Mematuhi perintah-perintah dari peserta touring didepannya.

Ada pula untuk perlengkapan-perlengkapan entah itu untuk kendaraannya, ataupun untuk dirinya pribadi.
Misalkan untuk kendaraan pribadi ( Roda dua ) :
 Lampu, Klakson, Spion, rem yang berfungsi dengan sempurna
 Ban masih layak di gunakan
 Oli mesin atau rem yang mencukupi kapasitas

Untuk Pribadi/perbekalan keselamatan diri sendiri :
 Helm full face, baik untuk pengemudi atau boncenger
 Jas ujan/anti air dan tidak untuk yang model ponco
 Sepatu, sarung tangan, masker muka & body protector
 Membawa Surat-surat motor, KTP dan STNK
 Membawa obat-obatan pribadi
 Makanan yang di butuhkan pada saat di perjalanan
 Kunci-kunci motor.
Dan untuk formasi pada saat perjalanan baik untuk ketua touring atau pengendara lainnya :
 1 atau 2 orang Safety Officer berada di barisan paling depan
 Vooridjer, berada pada belakang SO
 Peserta touring
 TO dan HO berada di paling belakang barisan
 Sweaper berada di sebelah kiri/kanan tengah barisan
 Selain petugas, urutan peserta adalah semakin besar handicap yang dimiliki peserta, maka posisinya semakin dekat dengan vooridjer, dibanding yang sendirian. Karena membawa penumpang dianggap handicap.

Budget Trip to Tigaras from Medan in one night

Trip Tigaras: Minyak 75rb PP, makan siang 20rb, penyebrangan Tigaras ke Simanindo 20rb, penginapan 125rb/org, makan malam 20rb, makan pagi 20rb, penyebrangan tomok ke prapat 20rb, makan siang 20rb....total 320rb

Eco Friendly

You know it makes sense....take a refillable water bottle with you when you travelπŸ˜‡. After ditching plastic straws and replacing with home made bamboo straws....Free water refills for our guests...the latest move to increase our sustainability profile and reduce our impact on the environment.πŸ™ŒπŸ’ͺ🌳🌱🌿🌏...(like the wonderful Borough Market in Londons #boroughfountains initiative).
#artventourguesthouse #artventourlandbukitlawang #bukitlawang #sumatra #gogreen #therealgreendeal #reuse #refill #recycle #sustaible #responsibletravel #environment #ecofriendly #water #sustainability #reducesingleuseplastic #reducesingleuse #boroughmarket #tupperware

Pemilik Kenderaan wajib mengerti saat mengganti Ban

_*PEMILIK MOBIL WAJIB MENGERTI*_

*KODE BAN MOBIL*

*☞ Contoh yang tertulis di ban*  :

*205/65/R15 94 H*

↳ 205 ⇨ Lebar BAN.
↳ 65   ⇨ Tinggi BAN.
↳ R     ⇨ Ring/Diameter.
↳ 15   ⇨ Ukuran Ring.
↳ 94   ⇨ Max Beban.
↳ H     ⇨ Max 210km/h.
↳ S     ⇨ Max 180km/h.
↳ T     ⇨ Max 190 km/h.
↳ U     ⇨ Max 200km/h.
↳ V     ⇨ Max 240km/h.
↳ Z     ⇨ >240km/h
↳ W    ⇨ 270km/h
↳ Y     ⇨ 300km/h

*Setiap BAN ada 4 angka terlihat di sisi BAN*
↣ Contoh : *2214*

Menunjukkan keluaran BAN baru dari pabrik pada minggu ke *22* tahun *2014*

*Setiap BAN, mempunyai tempo/waktu/masa  penggunaan ideal 5 tahun. Sejak *tanggal dikeluarkan dari PABRIK.*

Jika...
*Membeli B̲A̲N̲ ̲B̲A̲R̲U̲ pastikan tahun terkini*...
Jika...
Membeli BAN dengan kode tahun yang sudah lewat, maka kita berhak untuk minta Diskon dari harga List sesuai dengan ketentuan.

*Contoh ban dijual pd akhir tahun 2014:*
Produk tertulis tahun:
2013 Potongan Disc 20%.
2012 Potongan Disc 40%.
2011 Potongan Disc 60%.
2010 ... jangan dibeli meskipun ditawari diskon 80%.

*Usia BAN (BARU) bila sudah lebih dari 5 tahun,* maka kondisi karet ban sudah keras karena sudah masuk kategori *expired* meskipun belum digunakan.

Sangat *disarankan jangan dipakai lagi,* jelas bisa *membahayakan jiwa anda.*

Putra Mahkota Kerajaan Aceh Darussalam, Tuanku Raja Daud Bin Tuanku Raja Ibrahim bin Sultan Muhammad Daud Syah

*_"Kisah Tuanku Raja Daud di Gang Buntu"_*


Pria 63 tahun itu cucu Sultan Aceh. Dia tinggal di rumah sederhana milik mertuanya di gang buntu. Tahukah Anda, apa pekerjaan keturunan Raja Aceh tersebut? Jangan kaget: Tukang Becak!

***

Foto Sultan Alaidin Muhammad Daoed Syah bersama istrinya, Potjut Tjot Murong, dan Putra Mahkota Kerajaan Aceh Darussalam Tuanku Raja Ibrahim, dalam bingkai indah dipajang pada dinding ruangan tamu rumah semi permanen itu. Rumah 6x20 meter memiliki dua kamar tersebut berada di Gang Buntu Nomor 16, Jalan Malikussaleh, Kampung Jawa Lama, Kecamatan Banda Sakti, Lhokseumawe.

Rumah tersebut ditempati Tuanku Raja Daud, 63 tahun, bersama istrinya, Yusniati, 58 tahun. Tuanku Raja Daud adalah adik kandung Sultanah Teungku Putroe Safiatuddin Cahya Nur Alam binti Tuanku Raja Ibrahim bin Sultan Muhammad Daoed (Daud) Syah. Safiatuddin Cahya Nur Alam sudah berpulang ke rahmatullah pada usia 84 tahun di Mataram, Nusa Tenggara Barat, dan dimakamkan di Kompleks Baperis, satu kompleks dengan makam Sultan Iskandar Muda, di Banda Aceh, 21 Ramadhan 1439 H/6 Juni 2018, malam.

Tuanku Raja Daud merupakan anak dari pasangan Tuanku Raja Ibrahim (Putra Mahkota Kerajaan Aceh Darussalam) dan Cut Khatijah. Tidak banyak yang tahu ternyata cucu Sultan Aceh itu sudah puluhan tahun tinggal di Gang Buntu Jalan Malikussaleh, Lhokseumawe. Di tepi Jalan Malikussaleh, Tuanku Raja Daud membuka kios kecil untuk dagangan barang kelontong sabagai pekerjaan sampingan.

Matapencaharian pria lanjut usia ini setiap hari adalah menarik becak mesin. Kondisi becak tersebut tidak mulus. Joknya terlihat retak. Bodi, atap terpal, dan tiga bagian roda (ban) becak tak mewah. Sementara mesin becak kini perlu perbaikan. “Sedikit terkendala di bagian dalam mesin karena seher (piston) sudah tidak stabil lagi. Tampaknya perlu dibongkar mesin untuk diperbaiki supaya aman dan nyaman untuk digunakan,” kata Tuanku Raja Daud saat berbincang dengan portalsatu.com yang berkunjung ke rumahnya di gang buntu itu, Kamis, 7 Juni 2018, sore.

Tuanku Raja Daud menceritakan, saat berusia 20 tahun dan masih lajang, ia menjadi pekerja di bus trayek Meureudu, Aceh-Medan, Sumatera Utara. “Waktu itu pendapatan tidak menentu sehingga tidak mencukupi kebutuhan sehari-hari,” ujarnya.

Dia beralih pekerjaan menjadi tukang becak sejak tahun 1996. Becak yang digunakan saat ini merupakan hasil kredit sepeda motor Honda Revo sejak 2011, bayar Rp600 ribu per bulan, dan kini sudah lunas.

***




Tuanku Raja Daud menceritakan, meskipun ia kelahiran Sigli, Pidie, tapi sebenarnya sejak kecil sudah tinggal di Lhokseumawe. Namun ketika berpisah (cerai) ayah dengan ibunya, ia pindah ke Bireuen bersama ibunya, Cut Khatijah. Setelah beberapa tahun tinggal di Bireuen, Cut Khatijah mendapat jodoh dengan warga Lhokseumawe. “Sejak saat itu saya tinggal di Kuta Blang, Lhokseumawe, bersama ibu dan ayah tiri. Ibu saya kemudian meninggal dunia," ujar Tuanku Raja Daud.

Menurut Tuanku Raja Daud, tahun 1982, ia menikah dengan Yusniati, warga Kampung Jawa Lama. Setelah itu, ia pun menjadi warga setempat, tinggal di rumah mertuanya, yang kemudian diberikan hak pakai penuh. Hasil perkawinannya dengan Yusniati, Tuanku Raja Daud dikaruniai seorang putra, Zulkifli. Namun, anaknya itu meninggal dunia saat usia enam tahun.

Tuanku Raja Daud mengisahkan, sebelumnya rumah di Kampung Jawa Lama yang ditempati bersama istrinya selama bertahun-tahun itu hanya berkonstruksi kayu. Musim hujan, rumahnya terendam banjir dengan ketinggian air hampir sepinggang orang dewasa. “Alhamdulillah kondisi tempat tinggal saya saat ini sudah lumayan dari sebelumnya, karena sudah direhab oleh keluarga secara bersama-sama," ujarnya.

Cucu Raja Aceh ini mengaku, selama ia tinggal di Kampung Jawa Lama tidak pernah mendapat bantuan apapun dari pemerintah. Tidak ada yang mengetahui bahwa ia keturunan Tuanku Raja Ibrahim, Putra Mahkota Kerajaan Aceh Darussalam. “Tidak ada yang mengetahui saya adik dari (almarhumah) Saifiatuddin Cahya Nur Alam binti Tuanku Raja Ibrahim bin Sultan Muhammad Daud Syah, kecuali orang sekitar rumah, itu mereka tahu. Akan tetapi belum sampai diketahui Pemerintah Lhokseumawe," kata Tuanku Raja Daud.

***




Di rumahnya tersebut, Tuanku Raja Daud masih menyimpan album foto keluarga besarnya, yang diletakkan dalam lemari kaca berukuran kecil, di ruangan tamu. Dia turut memperlihatkan kepada portalsatu.com dokumentasi yang diabadikan dari berbagai momen bersama keluarga besarnya.

Tuanku Raja Daud menjelaskan, hasil perkawinan Tuanku Raja Ibrahim dan Cut Khatijah dikarunia tiga putra, yakni Tuanku Raja Johan (almarhum), Tuanku Raja Sjamsjuddin, dan dirinya (Tuanku Raja Daud). Sedangkan (almarhumah) Teungku Putroe Safiatuddin Cahya Nur Alam merupakan putri Tuanku Raja Ibrahim dan Pocut Hamidah. “Jadi, saya dan Sultanah Teungku Putroe Safiatuddin Cahya Nur Alam satu ayah lain ibu,” ujar Tuanku Raja Daud.

Menurut Tuanku Raja Daud, ia sempat tinggal satu rumah bersama ayahnya, Tuanku Radja Ibrahim, dan Safiatuddin Cahya Nur Alam, puluhan tahun silam di Lampineung, Banda Aceh. Kala itu, lahan tempat tinggal mereka dari pemberian pemerintah untuk Tuanku Radja Ibrahim dan Safiatuddin Cahya Nur Alam.

“Safiatuddin Cahya Nur Alam cukup baik dan ramah, baik dengan keluarga besar maupun masyarakat sekitar. Selama tinggal bertahun-tahun bersama beliau, tidak pernah sedikit pun saya merasakan ketidaknyamanan. Beliau suka bercerita kepada keluarga kami tentang bagaimana kisah kehidupan dulu ketika masih di bawah pemerintahan Kerajaan Aceh,” kata Tuanku Raja Daud.

Menurut Tuanku Raja Daud, akhirnya ia berpisah tempat tinggal dengan Safiatuddin Cahya Nur Alam. “Tapi sudah lupa sejak tahun berapa. Akhirnya Safiatuddin Cahya Nur Alam pergi bersama putri bungsu bernama Pocut Merah Neneng ke Lombok, Nusa Tenggara Barat, dan menetap di sana,” ujarnya.

Dia kemudian mendapat kabar bahwa Sultanah Teungku Putroe Safiatuddin Cahya Nur Alam wafat di RS Kota Mataram, NTB, 21 Ramadhan 1439 H/6 Juni 2018, pukul 06.45 WITA. "Kami sekeluarga mendapat kabar wafatnya beliau hari itu juga (Rabu, 6 Juni 2018). Diberitahukan oleh keluarga yang ada di Kota Mataram, juga disampaikan tentang prosesi pemakaman jenazahnya di Banda Aceh," kata Tuanku Raja Daud.

Tuanku Raja Daud pun mengungkapkan kesedihannya atas kepergian almarhumah Sultanah Teungku Putroe Safiatuddin Cahya Nur Alam. Ditambah lagi, dia tidak mampu pergi ke Banda Aceh untuk ikut mengantarkan almarhumah ke pemakaman bersama keluarga besarnya. "Saya hanya bisa berdoa, semoga semua amal ibadah almarhumah diterima di sisi Allah SWT. Tentunya kami sekeluarga besar ikhlas dan tetap tabah, beliau merupakan kakak kami yang pertama, tertua," ujarnya.

***

Tuanku Raja Daud mengatakan, pada tahun 2013, ia bersama keluarganya pernah dipanggil oleh pihak Pemerintah Aceh pada masa Gubernur Zaini Abdullah untuk pertemuan silaturahmi keturunan Sultan Aceh. Namun, kata Tuanku Raja Daud, jika berbicara soal bantuan, sampai hari ini ia belum pernah merasakan dari pihak pemerintah, baik Provinsi Aceh maupun Kota Lhokseumawe.

"Pihak Pemerintah Aceh sudah mengetahui kami dari keturunan Kerajaan Aceh. Sebenarnya kita bukan bermaksud meminta, tetapi bagaimana rasa kepeduliannya terhadap keluarga yang ditinggalkan Sultan Muhammad Daud Syah sebagai bentuk penghormatan kepada para Sultan Aceh, karena sudah banyak berjasa dalam mempertahankan martabat Aceh di tengah penjajahan kolonial Belanda, sehingga Indonesia menjadi negara berdaulat seperti saat ini," ujar Tuanku Radja Daud.

Tuanku Raja Daud masih ingat, tahun 2010 rumahnya pernah didokumentasikan oleh pihak tertentu yang menyatakan akan memberikan bantuan rumah. Saat itu, diminta berkas dokumen seperti KK, KTP dan sebagainya. Namun sampai sekarang belum ada realisasi bantuan yang dijanjikan tersebut. Jangankan rumah, kata Tuanku Raja Daud, sepersen uang pun tidak pernah diterima dari pemerintah, kecuali bantuan raskin atau beras untuk rakyat miskin.

"Kita bukan meminta kepada pemerintah, tapi hanya untuk menghargai jasa para pahlawan yang telah mendahului kita," ucap Tuanku Raja Daud.

Cucu Sultan Aceh ini pun masih menjadi tukang becak sampai usia 63 tahun lantaran tidak ada pekerjaan lain untuk memenuhi kebutuhan hidup. "Dimaklumi saja, kita sebagai penarik becak mana tentu pendapatannya, memang tidak mencukupi untuk kebutuhan,” katanya.